Hakikat Manusia dari Sudut Pandang Setengah Manusia

Refleksi
Hakikat Manusia dari Sudut Pandang Setengah Manusia

Hakikat manusia dari sudut pandang setengah manusia.

Dari hasil pengamatan terkait keruwetan hidup, sifat, Karakter dan hakikat manusia. Pada esensinya manusia itu bergerak atas dasar tujuan dan kepentingan pribadinya namun ada beberapa hal yang memaksa manusia tersebut menomor dua-kan kepentingan pribadinya, apabila menurutnya kepentingan bersama lebih penting dari kepentingannya sendiri, dan kepentingan bersama itu memberikan impact yang konkret terhadap dirinya yang bemuara pada kepuasan batin.

Dari hasil pengamatan itu juga ternyata manusia akan merasa utuh menjadi dirinya pada saat ia menemukan atau berada pada di mana sifat atau karakter aslinya bisa diterima oleh lingkungannya.  dari situ pula  aku berhipotesa bahwa manusia takut akan tidak diterimanya sifat atau cara hidup naturalnya.

Socrates mengungkapkan statment terkait esensi manusia yaitu salah satu hakikat manusia ialah ia selalu ingin tahu dan untuk itu harus ada orang yang memberinya bantuan sebagai bidan yang membantu bayi keluar dari rahimnya.

Seringkali manusia itu tidak menyadari bahwa dalam dirinya terpendam jawaban-jawaban bagi persoalan yang dipertanyakannya. karena itu perlu ada orang lain yang membantu orang itu mengemukakan jawaban-jawaban yang masih Terpendam tersebut, perlu ada seseorang yang membantu orang itu melahirkan ide yang ada di dalam diri manusia tersebut. salah satu caranya adalah dengan membuat ruang kreasi, komunitas dan ataupun perkumpulan yang bisa membangun keaktifan komunikasi, kreasi Inovasi, dan ide-ide luar biasa yang dihasilkan dari obrolan obrolan yang membuat mereka berpikir. 

Berpikir juga merupakan salah satu hakikat manusia. karena di sinilah perbedaan antara manusia dengan hewan, dengan berpikir manusia bisa melahirkan ide-ide baru dan dengan berpikir pula manusia bisa membandingkan ataupun menilai hal yang sekiranya baik dan yang kurang baik untuk dirinya. Maka kita sebagai manusia harus berkontribusi dalam mewujudkan manusia-manusia yang mampu berpikir dengan baik agar bisa menguasai entitas yang ada di dalam dirinya. 

Dalam menghadapi persoalan tersebut ada pendapat dari filsuf yunani yaitu Plato murid dari socrates yang menguatkan tulisan di atas terkait entitas jiwa Manusia, di dalam diri manusia itu memiliki tiga aspek penting yaitu Roh, Nafsu dan Rasio. dalam operasinya dia menganalogikan roh itu sebagai kuda putih yang menarik kereta bersama Kuda hitam (nafsu) yang dikendalikan oleh Kusir yaitu Rasio yang berusaha mengontrol laju kereta.

Berdasarkan pendapat Plato ini maka program pendidikan haruslah membantu rasio dalam mengendalikan kereta tersebut.

Maka kita harus menemukan literatur pendidikan yang bisa mengisi kekosongan-kekosongan di dalam tiga aspek  penting manusia agar bisa melahirkan manusia-manusia yang bisa mengontrol diri dan sosialnya.

Dalam hal hidup bermasyarakat kita bisa menyimpulkan dari pernyataan plato bahwa hidup bermasyarakat itu merupakan keharusan bagi manusia, manusia tidak dapat hidup sendirian karena seseorang yang hidup sendirian di suatu pulau akan sulit untuk hidup. karena aktivitas kemanusiaan, persahabatan, bermain, seni, politik dan berpikir tidak akan terjadi di Pulau itu. implikasi dari teori ini ialah manusia itu harus memiliki bakat dan minat yang berbeda antara seorang dan lainnya, dan dari situ akan menghasilkan sinergitas, spesialis, dan pembagian kerja yang efektif.

Plato pernah menyampaikan konsep penting dalam pendidikan ketika ia menyatakan "bahwa masyarakat yang rusak akan memproduksi individu-individu yang cacat, individu-individu yang cacat itu akan menyumbangkan kesulitan sosial bagi masyarakat", maka kita bisa simpulkan pula bahwa pendidikan sebagai kunci utama dalam membangun masyarakat.

Dari sedikitnya pemaparan di atas terkait esensial manusia, kali ini akan ku tutup tulisan ini dengan teori dari seorang filosof Inggris yaitu John Locke yang mengeluarkan teori tabula rasa yang mengatakan bahwa "jiwa manusia itu saat dilahirkan laksana kertas bersih, kemudian diisi dengan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam hidupnya, pengalaman-lah yang paling menentukan keadaan seseorang".

menurut paham ini pendidikan sangat berpengaruh pada seseorang

 

 

Tinggalkan Komentar

Bagikan pendapat Anda tentang artikel ini

Maksimal 1000 karakter
Panduan Komentar:
  • Gunakan bahasa yang sopan dan santun
  • Hindari kata-kata kotor, SARA, atau spam
  • Jangan menyertakan link atau URL
  • Komentar akan ditampilkan langsung jika sesuai aturan
Komentar (0)
Memuat komentar...

Memuat komentar...

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan komentar!