*Qona’ah dalam Perspektif Tasawuf Modern Buya Hamka*
Seringkali kita membayangkan kebahagiaan adalah ketika seseorang memiliki jabatan tertentu dalam kehidupan. Atau barangkali, kebahagiaan didefinisikan ketika harta kekayaan sudah mencapai titik tertentu yang ditargetkan. Ada juga yang menyebut bahagia ialah ketika sudah memiliki kendaraan impian yang diinginkan. Tak jarang, seseorang melekatkan kebahagiaan atas pencapaian kemuliaan status sosial tertentu dalam kacamata masyarakat.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi, Nabi Muhammad memberikan sudut pandang lain tentang kebahagiaan . Nabi Muhammad Bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ،
_“Barang siapa di antara kalian pada pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah dikumpulkan untuknya.”_
Seringkali kebahagiaan kita lekatkan pada satu hal yang belum kita capai atau miliki dalam hidup. Sehingga, kita melupakan sumber nyata kebahagiaan yang ada di depan mata, hal ini yang melalaikan kita dari mudahnya untuk bersyukur.
Nabi memberikan isyarat bahwa ketika seseorang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan ada makanan yang bisa dimakan untuk hari itu, maka ia seakan sudah memiliki keistimewaan dunia & seisinya. Sesederhana itu, nabi menggambarkan kebahagiaan. Ada tempat untuk berteduh, orang tua yang utuh, anak yang masih patuh, suami yang dengan ikhlas berjuang memberi nafkah, teman yang siap mendengarkan cerita, dan segala hal sederhana lainya yang dekat dengan kita.
Menurut Buya hamka, Qona’ah adalah kunci dari ini semua. Qona’ah adalah perasaan cukup atas karunia yang dianugerahkan kepadanya, sehingga menjadikanya pribadi yang ringan untuk bersyukur. Qona’ah melapangkan dada serta menumpas kegelisahan atas kekhawatiran kita kepada apa yang belum terjadi.
Qona’ah tak bermakna pasrah, minim ikhtiar atau berpangku tangan pada nasib. Qona’ah beroperasi pada ranah hati. Beriktiar secara optimal adalah kewajiban. Namun, hasil yang dicapai atas ikhtiar itu tentu adalah misteri. Ikhtiar bisa menghasilkan keuntungan, tak jarang pula menghadirkan kerugian. Dunia seringkali datang membujuk pada satu waktu, disaat yang sama ia juga datang untuk menipu. Qona’ah datang menjadi benteng atas segala misteri kemungkinan yang datang dalam kehidupan.
Dalam Al Quran manusia didefinisikan punya 2 sifat yang melekat: Jika mendapat keburukan ia mengeluh, jika mendapat kebaikan ia menjadi kikir dan lupa bersyukur.
Qona’ah menjadikan diri manusia tak terperdaya oleh dunia yang dimiliki, bukan dilarang menggenggam dunia. Seandainya dalam genggaman ia memiliki seluruh kemewahan dunia, itu tak merubah dirinya. Jika disaat yang sama kemewahan itu lenyap dari dirinya, tak pula menjadikannya resah. Diatas hanya Allah, dibawah hanya tanah. Barangkali ucapan KH Hasan Abdullah Sahal ini adalah bentuk tauhid & Qona’ah tingkat tinggi yang perlu kita dalami.
Allahu a’alam bishawab.
Komentar (0)
Memuat komentar...
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan komentar!