Renungan untuk Hati yang Grasak Grusuk, dari 4 Ayat Terakhir Surah Al Fajr

Renungan untuk Hati yang Grasak Grusuk, dari 4 Ayat Terakhir Surah Al Fajr

Dalam khazanah tasawuf, hidup manusia kerap dikepung oleh dua pencuri paling halus namun paling kejam: penyesalan atas masa lalu dan kecemasan akan masa depan. Keduanya tidak datang dengan suara keras, tapi pelan-pelan menggerogoti jiwa. Mereka mencuri kebahagiaan hari ini, padahal kebahagiaan itu sebenarnya sedang duduk tepat di hadapan kita, menunggu disadari.

Luka masa lalu, bila tak diolah dengan kebijaksanaan, sering berubah menjadi trauma yang destruktif. Ia menyesakkan dada, memburamkan akal sehat, melemahkan jasmani, dan perlahan mematikan keberanian untuk melangkah. Masa lalu yang seharusnya menjadi guru, justru berubah menjadi penjara. Kita hidup, tetapi tidak sepenuhnya hadir.

Sementara itu, masa depan yang sejatinya masih ghaib kerap kita isi dengan ketakutan. Kecemasan itu membayangi: tentang pekerjaan, studi, keluarga, pernikahan, karier, pendidikan anak, bahkan kematian. Rasa takut ini menutup kemungkinan bahagia hari ini. Kita sibuk mencemaskan apa yang belum tentu terjadi, hingga lupa mensyukuri apa yang sedang terjadi.

Dalam dunia tasawuf, kegelisahan hati juga sering berakar dari hasad. Sebuah penyakit halus yang menginginkan kebaikan orang lain sirna. Nabi menggambarkannya sebagai api yang kadang menyala cepat, kadang pula membakar perlaha, namun pasti menghanguskan. Resah, cemburu, dan gelisah yang muncul saat melihat keberhasilan teman, keluarga, atau orang lain, sering kali adalah benih hasad yang tak disadari. Pada tingkat paling berbahaya, hasad tidak lagi berhenti pada rasa, tetapi berubah menjadi upaya menjatuhkan.

Ada pula penyakit lain yang tak kalah licin: riya. Amal yang lahir bukan untuk Tuhan, tetapi untuk pandangan manusia. Riya memberi semangat palsu. Ia membuat seseorang tampak berbuat baik, namun rapuh di dalam. Ketika pujian tak datang, hati runtuh; ketika pengakuan tak diperoleh, jiwa hancur. Di sinilah kita memahami mengapa Al-Qur’an hampir selalu menggandengkan kata amal dengan ikhlas. Sebab ikhlas membebaskan manusia dari penjara penilaian manusia. Bukankah mustahil kita menjadi baik di mata semua orang? Selamat dari lisan manusia adalah utopia yang tak pernah nyata.

Nabi Muhammad ﷺ pernah mengisahkan seorang lelaki yang belum wafat, namun telah dijamin kedudukannya yang tinggi. Para sahabat heran amal apa gerangan yang ia lakukan? Mereka menginap di rumahnya, mengamati ibadahnya. Tidak ada yang tampak istimewa: shalatnya biasa, dzikirnya biasa, malamnya pun tanpa keistimewaan yang mencolok. Hingga akhirnya ditanyakan langsung rahasianya.

Ia menjawab dengan tenang:

“Aku tidak pernah tidur di malam hari kecuali setelah melapangkan hatiku dari semua kesalahan orang lain kepadaku. Aku tidak membiarkan mataku terpejam, sebelum hatiku berdamai dengan luka.”

Hufft.

Betapa indah jiwa yang lapang.

Betapa luas hati yang bersih.

Barangkali, kepedihan masa lalu, kecemasan masa depan, hasad, riya, dan dendam yang mengendap itulah yang selama ini merampas ketenangan kita. Maka benarlah firman Allah: tidak ada yang selamat, kecuali mereka yang datang dengan hati yang selamat.

Dan mungkin, pada titik inilah…

ketika semua kegaduhan batin telah diletakkan,

ketika penyesalan berhenti disesali,

ketika kecemasan berhenti ditakuti,

ketika hati tak lagi sibuk membanding dan menuntut,

Tuhan tidak datang dengan penghakiman,

melainkan dengan panggilan yang amat lembut nan tenang.

Mungkin inilah makna terdalam dari empat ayat terakhir Surah Al-Fajr: tentang jiwa yang telah berdamai—dengan masa lalunya, dengan takdirnya, dengan sesamanya, dan dengan Tuhannya. Jiwa yang dipanggil bukan dengan bentakan, tetapi dengan seruan lembut. Dipersilakan pulang. Diterima. Dimuliakan.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُ

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْ

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

Wahai jiwa yang tenang,

kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.

Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,

dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Ya Allah,

hindarkan kami dari hati yang grasak-grusuk.

Tenangkan kami, sebelum Engkau memanggil kami pulang.

Tinggalkan Komentar

Bagikan pendapat Anda tentang artikel ini

Maksimal 1000 karakter
Panduan Komentar:
  • Gunakan bahasa yang sopan dan santun
  • Hindari kata-kata kotor, SARA, atau spam
  • Jangan menyertakan link atau URL
  • Komentar akan ditampilkan langsung jika sesuai aturan
Komentar (0)
Memuat komentar...

Memuat komentar...

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan komentar!